Billy Tulungen

Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia

Ekonomi Pembangunan · Ekonomi Perkotaan dan Wilayah · Ekonomi Politik

Saya kandidat doktor ilmu ekonomi di Universitas Indonesia. Disertasi saya, Shaking Land and Shaking Lives, menelusuri apa yang terjadi pada sebuah desa setelah diguncang gempa yang merusak: pada tatanan sosialnya, pada perilaku rumah tangganya, dan pada perekonomian setempat. Bab pertamanya didanai hibah riset ReCIPE Programme dari Centre for Economic Policy Research dan UK FCDO.

Di luar itu saya PNS Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dan sudah sepuluh tahun berada di dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Mulai dari pengurus barang, pejabat pembuat komitmen, pokja pemilihan, sampai memimpin sub bagian pendampingan dan bimbingan teknis PBJ provinsi. Di tingkat nasional saya fasilitator LKPP sejak 2018, dan sekarang asesor kompetensi di LSP LKPP, advisor PBJ, serta anggota tim pendamping kontrak.

Foto Billy Tulungen

Halaman berbahasa Indonesia ini saya siapkan untuk rekan-rekan di lingkungan pengadaan. Riwayat lengkap beserta tanggalnya, daftar publikasi, riwayat mengajar, dan CV ada di versi bahasa Inggris, dan halaman itu yang saya perbarui lebih dulu.

Riset

Dugaan yang lazim, gempa besar memicu konflik. Ternyata tidak sesederhana itu.

Bersama Halley Yudhistira dan Jahen Rezki, saya memadankan tujuh gelombang Podes 2005–2024 dengan peta intensitas guncangan USGS ShakeMap, untuk 43.351 desa di zona rawan gempa menengah dan tinggi. Hasilnya, peluang sebuah desa melaporkan perkelahian massal justru turun 1,6 poin persen dari basis 6,7 persen, sekitar seperempat.

Persoalannya, angka turun itu belum menjelaskan apa pun. Bisa berarti benar-benar lebih sedikit perkelahian, bisa juga kepala desa yang sedang sibuk sehingga tidak sempat melapor, atau ketertiban yang membaik karena ada aparat dan relawan yang berdatangan. Satu indikator tidak bisa memisahkan ketiganya. Maka kami pakai beberapa.

Formulir yang sama, diisi kepala desa yang sama, untuk rentang ingatan dua belas bulan yang sama, juga mencatat pencurian, perampokan, dan penganiayaan. Ketiganya menuntut hal berbeda dari pelakunya: kekerasan bersama butuh koordinasi sekaligus konfrontasi, perampokan butuh perjumpaan tetapi tidak butuh koordinasi, pencurian tidak butuh keduanya. Pada satu sampel bersama berisi 300.018 desa-gelombang, konflik komunal turun sementara pencurian tidak ikut turun. Perampokan dan penganiayaan pun tidak mengikuti pencurian.

Yang kami klaim adalah perpisahan arah itu, bukan kenaikan pencuriannya. Pencurian memang naik tajam bila yang dipakai hanya efek gelombang, tetapi koefisiennya sendiri tidak lagi teridentifikasi terpisah begitu efek provinsi-per-gelombang dimasukkan. Argumen paper ini tidak bergantung pada pencurian yang naik.

Jadi keamanan tidak serta-merta membaik. Yang berubah adalah jenis gangguan yang sanggup dihasilkan sebuah desa. Pola ini paling konsisten dengan lumpuhnya kemampuan warga berorganisasi, kemampuan yang dibutuhkan kekerasan kolektif dan tidak dibutuhkan pencurian diam-diam. Petunjuk lain mengarah ke tempat yang sama: gotong royong berpartisipasi tinggi untuk kepentingan umum turun 3,1 sampai 3,2 poin persen setelah guncangan, sedangkan tolong-menolong darurat, yang tidak memerlukan koordinasi permanen, tidak bergerak.

Pengadaan publik

Keahlian saya berkisar pada perencanaan dan strategi pengadaan, penyusunan spesifikasi dan HPS, pemilihan penyedia, manajemen kontrak, dan pengembangan kompetensi PBJ.